Upaya pencarian dan penyelamatan terhadap korban kecelakaan laut yang menimpa Kapal Motor (KM) Nurul Salsa di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, kini memasuki fase krusial pada hari keempat operasi, Sabtu (18/7). Mengingat luasnya potensi sebaran korban akibat dorongan arus laut, Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) gabungan secara resmi memutuskan untuk memperluas area penyisiran hingga mencakup wilayah seluas 448 mil laut persegi (nautical mile/NM²). Langkah taktis ini diambil guna memastikan seluruh titik potensial di mana korban kemungkinan hanyut dapat terjangkau secara optimal oleh armada penyelamat.
Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, mengonfirmasi bahwa keputusan memperluas radius pencarian didasarkan pada perhitungan matematis arah angin dan pola arus laut (drift model) yang terus berubah di sekitar Laut Flores. "Perluasan area pencarian ini menjadi mutlak agar efektivitas penyisiran di lapangan meningkat secara signifikan. Mengingat luasnya wilayah operasi yang harus dijangkau, kami membagi seluruh unsur SAR gabungan ke dalam beberapa sektor strategis. Dengan pembagian ini, setiap armada memiliki tanggung jawab area koordinat yang spesifik, sehingga proses pencarian berjalan lebih sistematis dan terstruktur," jelas Arif saat memberikan keterangan pers di Makassar.
Strategi Pembagian Sektor dan Mobilisasi Armada Tempur Laut
Dalam operasi hari keempat ini, kekuatan taktis dibagi menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU) utama yang bergerak secara paralel untuk memaksimalkan cakupan area. SRU pertama difokuskan pada penyisiran wilayah perairan dalam menggunakan kapal-kapal berukuran besar, sedangkan SRU kedua melakukan penyisiran di wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil di sekitar lokasi kejadian menggunakan perahu karet (rubber boat) serta kapal cepat milik nelayan setempat.
Untuk mendukung misi kemanusiaan berskala besar ini, kekuatan Basarnas Makassar mendapatkan suplai bantuan personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) laut dari wilayah tetangga. Kantor Basarnas Kendari mengirimkan kapal legendaris KN SAR Pacitan yang mengangkut 28 personel ter latih, lengkap dengan peralatan penyelamatan bawah air dan deteksi objek dasar laut. Sementara itu, Kantor Basarnas Maumere turut memperkuat operasi dengan mengerahkan KN SAR Puntadewa beserta 15 personel penyelamat tambahan.
Kehadiran dua kapal penyelamat kelas besar ini memberikan dampak signifikan terhadap ketahanan operasi di laut lepas. Baik KN SAR Pacitan maupun KN SAR Puntadewa memiliki kemampuan navigasi canggih dan sanggup bertahan di tengah cuaca buruk, sehingga penyisiran di zona terluar dari radius 448 NM² tetap dapat dilakukan meskipun gelombang laut mengalami peningkatan tinggi.
Data Mutakhir Korban dan Manifest Penumpang
Berdasarkan hasil verifikasi berkala dan pencocokan data manifes yang dilakukan di posko darurat, KM Nurul Salsa diketahui mengangkut total 78 orang saat memulai pelayarannya. Angka ini mencakup penumpang umum, nakhoda, serta anak buah kapal (ABK). Hingga Sabtu (18/7) petang, ringkasan data korban kecelakaan kapal tersebut adalah sebagai berikut:
- Korban Selamat: 52 Orang
- Korban Meninggal Dunia: 1 Orang (telah dievakuasi dan diidentifikasi)
- Korban dalam Pencarian: 25 Orang
Sebanyak 52 korban yang selamat saat ini sebagian besar telah dievakuasi ke Puskesmas terdekat di Pulau Jampea dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KH Hayyung di Benteng, Selayar, untuk mendapatkan perawatan medis intensif akibat dehidrasi dan trauma fisik. Sementara itu, tim medis dan kepolisian (DVI) terus bekerja keras untuk memastikan proses identifikasi satu korban meninggal dunia berjalan cepat agar jenazah dapat segera diserahkan kepada pihak keluarga yang diselimuti duka mendalam.
Tantangan Geografis dan Dinamika Cuaca Selayar
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengungkapkan bahwa tim di lapangan menghadapi tantangan alam yang sangat kompleks. Perairan Kepulauan Selayar dikenal memiliki karakteristik hidrografi yang unik karena menjadi titik temu arus dari Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Dinamika arus laut yang kuat, ditambah dengan tiupan angin kencang khas musim pancaroba, menjadi faktor utama yang sangat memengaruhi pergeseran objek di permukaan air.
"Dalam menentukan pola pencarian setiap harinya, kami tidak bisa hanya mengandalkan perkiraan kasar. Kami terus mengevaluasi dan memperbarui data meteorologi dari BMKG secara real-time. Kecepatan angin, tinggi gelombang yang terkadang mencapai 2 meter, serta arah arus laut bawah permukaan menjadi variabel utama dalam merumuskan koordinat prioritas baru. Evaluasi harian ini sangat penting agar energi dan bahan bakar armada kami efisien dan tepat sasaran," papar Andi Sultan menjabarkan kendala lapangan.
Kronologi Tragedi KM Nurul Salsa
Peristiwa memilukan ini bermula ketika KM Nurul Salsa, sebuah kapal motor kayu yang biasa diandalkan sebagai transportasi penghubung antar-pulau, bertolak dari dermaga Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar, pada Rabu (15/7) sekitar pukul 05.00 WITA. Perjalanan laut ini awalnya diperkirakan berlangsung normal mengingat cuaca pada pagi hari itu cukup bersahabat.
Namun petaka terjadi di tengah jalan. Saat kapal berada di posisi perairan sebelah barat Pulau Polassi, atau sekitar 43 NM dari Pelabuhan Benteng Selayar, mesin utama kapal tiba-tiba mengalami kerusakan parah dan mati total (engine trouble). Tanpa daya dorong mesin, kapal kayu tersebut menjadi tidak stabil dan terus dihantam gelombang besar yang datang bertubi-tubi. Air laut mulai masuk menggenangi lambung kapal hingga akhirnya kapal kehilangan daya apung dan tenggelam dengan cepat. Kepanikan luar biasa melanda para penumpang yang sebagian besar sedang tertidur saat peristiwa nahas itu terjadi.
Fokus Pencarian Berikutnya: Menyisir Gugusan Pulau Sabalana
Meskipun upaya pencarian sepanjang hari keempat belum membuahkan hasil atau masih nihil terkait penemuan 25 korban tersisa, optimisme tim SAR gabungan tidak surut. Rencana operasi taktis untuk hari kelima, Minggu (19/7), telah disusun secara matang sejak Sabtu malam.
Fokus utama penyisiran pada hari berikutnya akan dialihkan dan diperluas ke arah selatan dan barat daya, khususnya menyasar pulau-pulau kosong tak berpenghuni serta pulau-pulau karang kecil (atol) yang tersebar di wilayah Kepulauan Sabalana. Keputusan ini diambil berdasarkan analisis bahwa korban selamat yang menggunakan pelampung atau berpegangan pada puing kapal kemungkinan besar terbawa arus menuju gugusan pulau tersebut.
Untuk mempermudah koordinasi taktis, mempercepat komunikasi, serta melayani pihak keluarga korban yang membutuhkan informasi valid, otoritas penanganan darurat telah mendirikan tiga posko utama yang saling terintegrasi:
- Posko Utama Makassar: Berperan sebagai pusat kendali operasi dan koordinasi lintas sektoral tingkat provinsi.
- Posko Taktis Selayar: Berlokasi di Pelabuhan Benteng, berfungsi sebagai pangkalan aju untuk pergerakan alutsista dan logistik.
- Posko Lapangan Jampea: Berada dekat dengan lokasi kejadian, difungsikan untuk penanganan awal korban selamat dan identifikasi medis darurat.
Sinergi yang solid antara Basarnas, TNI AL, Kepolisian Air dan Udara (Polairud), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), potensi SAR swasta, serta komunitas nelayan lokal diharapkan mampu mempercepat penemuan para korban yang masih hilang. Pemerintah daerah mengimbau kepada seluruh kapal niaga maupun kapal nelayan yang melintas di sekitar Laut Flores untuk segera melaporkan kepada posko terdekat apabila melihat tanda-tanda keberadaan korban atau puing-puing dari KM Nurul Salsa.
